Welcome!

Terhitung sejak Line@ mulai mengenakan limit pada postingan, jadilah kami melakukan survei melalui pesan broadcast untuk kelanjutan MixMax KPOP Fanfict yang hasilnya mayoritas adders memilih Wattpad, serta Blog untuk wadah kami ke depannya dengan masing-masing alasan. So here are our accounts.

 

MixMax accs:

Wattpad : @mixmaxkfict

Email : mfanfic@yahoo.com

Admin MKF (Line@) : http://line.me/ti/p/%40uwr7719n

MixMax KPOP Fanfict (Line@) : http://line.me/ti/p/%40crq9515a

 

Hope u enjoy our updates, here and another accs!<3

Stigma: Stage One

gun-and-blood

Stigma: Stage One

Dec31, ’16. insinner.

Repost from: Unrevealed Stars

The next stage of: Stigma

Ia tak dapat menahan seringai terukir di wajahnya. Ia tak pernah kalah – atau lebih tepatnya tak mau – kecuali saat itu.

 

Lupakan soal saat itu. Ia punya segudang lagi kerjaan menumpuk. Mumpung dunia bawah sedang kasak-kusuk sibuk menabur bibit perang, menyulut semua pihak agar ikut bertaruh siapa yang pantas dijadikan penguasa. Ia tidak benar-benar berpihak. Yang jelas ia diberi ‘makanan’ dengan jumlah sesuai maka pada orang itulah ia tetap kalem tak menggigit. Sisanya? Sekedar dilumpuhkan kalau beruntung atau bisa jadi mati di tempat.

Baca lebih lanjut

chapter 2

Lied

by: khun

a chaptered bangtan fans fiction for fidela_G and sorry for the typo.

enjoy the story…….

cast: Alice Kim (OC), Kim Nam Joon, Suga, Jungkook, Jin, Gisella, Gracia, Anna, dll

suasana kantin cukup ramai, apalagi ada sebuah stand baru dengan warna biru muda yang makanannya cukup enak dengan harga murah. Dan yang paling membuat stand itu ramai adalah pelayannya, seorang laki-laki tampan yang masih muda. semua siswa waita, ralat hampir semua siswa wanita, Alice tidak termasuk rombongan itu. Hampir semua siswa wanita rela mengantri demi membeli makanan di stand itu.

aice sendiri lebih memilih membeli makanan di stand sebelahnya yang lebih sepi. Harga da rasanya tidak berbeda jauh, makanan yang dijual pun nyaris sama, yang membedakan adalah penjualnya. stand berwarna putih kesukaan Alice itu milik sepasang ahjussi dan ajumma yang berusia sekitar 50-an.

alice berjalan ke arah kedai putih milik ahjussi yang sudah ia kenal baik. Tidak seperti biasanya, ada seorang laki-laki dengan lambang kelas X IPA-2 di lengan baju sebelah kirinya dan lambang OSIS di lengan baju sebelah kanannya, berdiri di depan stand berwarna putih itu. Ia harus menunggu sampai laki-laki itu berbalik dan berkata

“sebaiknya kau memesan dulu karena pesananku masih lama” katanya sambil memberi Alice jalan.

saat ia maju, ajumma song langsung menyambutnya dan mengambilkan pesanannya yang hanya sepiring tteokbokki. Setelah menerima pesanannya, Alice berjalan menuju sebuah meja di sudut kantin yang selalu sepi.

saat tteokbokkinya baru termakan setengah, ada seorang laki- laki mendekati mejanya dan berakhir dengan duduk di depannya. ALice mengingat bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang memesan makanan cukup banyak di kedai ahjussi sog tadi.

Alice POV


kenapa laki-laki ini harus duduk di depanku sih. Wajahnya memang lumayan tapi kenapa harus di depanku, makannya banyaklagi. Padahal tadi pinginnya ngabisin nih tteokbokki ini trus balik ke kelas. Mungkin nih anak pikir bisa seenaknya mentang mentang baru masuk udah di tunjuk jadi tim inti osis sama Si Ketua Osis es itu.

“Kenalkan aku Jungkook, Jeon Jungkook” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya yang habis memasukkan sesendok bibimbab ke mulutnya.

“Aku Alice” kataku malas

“Apa kau kenyang hanya makan sepiring tteokbokki?”

“tidak”

“lalu, kenapa kau hanya pesan tteokbokki?”

“karena aku tidak lapar dan tteokbokki hanya camilan”

“oooo”

Untung saja tteokbokki ku sudah habis, jadi setelah mengucapkan kata ‘aku duluan’ dan sebelum ia menahanku lebih lama aku langsung berdiri dan pergi ke kelas setelah membuang piring plastik bekas makananku tadi.

Alice POV end

Pasa saat yang sama dengan kepergian Alice, Min Yoon Gi atau yang biasa dipanggil Suga sedang berjalan untuk berbicara engan Jungkook dan melihat kepergian Alice, teman sekelasnya itu. Sesampainya di hadapan Jungkook yang sedang menghabiskan bibimbabnya, Suga langsung menggoda Jungkook dan mengorek informasi tentang Alice yang susah di dekati itu.

Tak lama setelah Alice masuk kelas bel masuk pun berbunyi dan semua murid berebut untuk masuk kedalam kelas. Alice sendiri pun langsung duduk dan mulai berbicara dengan ketiga temannya itu, Gracia, Giselle, dan Anna.

Di ruangan yang sama, tetapi sisi yang berbeda, Kim Nam Joon, sang ketua osis es, sedang memerhatikan orang yang menabraknya tadi. Entah mengapa matanya terarah kepada Alice saat gadis itu masuk ke dalam kelas dengan wajah kesal dan seketika berubah saat berbicara dengan ke-tiga temannya itu.

Beberapa jam pelajaran telah berlalu tanpa seorang guru pun yang masuk, dan sekarang bel istirahat kedua pun berbunyi. Nam Joon atau yang biasa Suga panggil Joon pergi ke taman belakang sekolah untuk melakukan kegiatan yang terkadang ia lakukan saat ingin menenangkan pikirannya, merokok.

Sesampainya di tama belakang sekolah yang sepi tetapi sangat asri dan indah, ia melihat seorang perempuan duduk disalah satu bangku dan membelakanginya. Perempuan itu menggunakan headphone merah di kepalanya, sehingga membuatnya tidak dapat mendengar langkah kaki Joon dibelakangnya.

Joon mengenal silet tubuh perempuan itu walau hanya dari belakang. ya, itu sosok Alice, perempuan itu duduk di salah satu kursi taman yang disediakan sekolah sambil menikmati buku kesukaanna itu, novel. Joon sendri bingung dengan perempuan satu itu, bagaimana bisa ia betah berlama lama berhadapan dengan nvel yang tebal seakali, kalau ia disuruh untuk membaca novel setebal 500 halaman atau buku pelajaran tradisional korea yang hanya 50 halaman, tentu saja ia lebih memilih buku pelajaran yang membosankan dan ribet itu dari pada buku kesukaan Alice itu.

Joon tidak jadi merokok dan memilih untuk memperhatikan Alice dari kursi di seberang nya, atau lebih tepatnya di belakang perempuan itu. mungkin bagi orang lain atau Joon sendiri memperhatikan seseorang tanpa melakukan sesuatu itu membosankan. Tetapi entah mengapa, kali ini Joon sama sekali tidak merasa bosan melainkan penasaran. Apa yang perempuan itu baca? apa yang membuat buku tebal itu menarik di matanya? apa isi novel itu sehingga dia menampilkan banyak ekspresi yang tidak pernah kulihat? dan masih banyak pertanyaan yang memenuhi benak Joon tentang Alice.

Alice telah selesai membaca novelnya dan berniat kembali ke kelas, tetapi betapa terkejutnya dia saat melihat sang ketua osis duduk di belakangnya. Joon juga tidak kalah terkejutnya dari ALice saat perempuan itu berbalik. Pertanyaan-pertanyaan yang terngiang di kepalanya membuatnya lupa akan perempuan di depannya itu.

“apa yang kau lakukan disitu?” tanya Alice

“tidak ada” jawab Joon singkat

Alice pun tidak ambil pusing dan melanjutkan memulai perjalannya menuju kelas saat sebuat tangan yang dingin mencengkram tangannya. Dan yang membuatnya terkejut adalah sang pemilik tangan, Joon. Ia tidak menyangka teman sekelasnya itu yang di juluki ketua osis es benar- benar memiliki tangan yang sangat dingin.

“Ada apa?” tanyanya penasaran

Joon yang tersadar dari gerakan refleksnya itupun menggeleng dan melepaskan tangan Alice. Setelah Alice sudah hilang dari pandangannya, ia merutuki kebodohanya itu. Bagaimana ia bisa menggenggam tangan wanita itu saat ia sedang memikirkannya?  Yang jelas ia bukan seorang mentalis yang pikirannya akn terlaksana saat ia sedang memikirkannya, tadi itu hanya refeks dan kebetulan.

-Khun

[TO ONE OK ROCK] Escape

PicsArt_01-06-01.45.22.jpg

ESCAPE

A ficlet about Boyfriend’s Jo Kwangmin and You (mentioned Boyfriend’s Jo Youngmin)

Red Queen! AU, Action, slight! Romance | Teen

About The Project

.

Based on prompt:

“Don’t worry it’s safe right here in my arms.” – The Beginning (One Ok Rock)

.


Suara ledakan masih terdengar di mana-mana. Dalam naungan langit kelabu, kami bersembunyi. Menerobos semak berdaun duri. Berusaha tidak tertangkap oleh penglihatan siapa pun. Begitu menemukan gua kosong, kami berhenti. Aku terengah-engah dalam dekapannya.

Para Darah Baruㅡsebutan yang mereka sematkan kepada kamiㅡsedang dalam pelarian. Mereka yang tidak beruntung sudah mati, mayatnya dingin tergantung di pohon-pohon atau binasa bersama api.

“Aku takut,” bisikku lirih. Bersamaan dengan selesainya kalimatku, gerakan samar terlihat menembus semak, menuju ke arah kami.

Dia menggenggam tanganku sedikit lebih erat. Netranya menyipit ketika mengintip keadaan di luar sana, yang tidak jauh-jauh dari pemandangan rumput kering dan bekas tanah terbakar.

Lalu dia menoleh ke arahku. Dia membisu, seolah satu kata yang keluar dari mulutnya bisa menghancurkan kami. Ekor matanya melirik bahu, dan aku tahu apa keinginannya.

Lekas-lekas aku memejamkan mata, menyalurkan kekuatanku. Kehangatan menjalar melalui syaraf-syarafku. Begitu selesai, luka di bahunya yang tadi menganga seketika sembuh. Bahkan tidak ada bekas setitik pun.

Dia menghela napas. “Thanks. Tapi lain kali jangan sembuhkan aku dengan sempurna. Jaga staminamu.”

Aku mengangguk lemah. Tautan kami makin erat. Lalu, kami melompat.

Detik berikutnya, kami berada di tempat yang sama sekali berbeda. Gua yang tadi kami singgahi menjadi hutan belantara. Bom masih meledak di sana-sini, dan aku bertaruh ini adalah area ranjau. Faktanya, di zaman ini, tiap hutan belantara adalah area ranjau.

Oh, bahagianya. Satu gerakan sepele juga bisa membunuh kami.

Samar, aku mencium bau khas laut. Bercampur dengan logam hasil ledakan dan aroma anyir darah, tentu saja.

Mendadak, luka gores di atas alisku mulai berdenyut-denyut. Likuid merah pekat menyapa penglihatanku. Aku menyekanya dengan kasar. Kemampuanku hanya untuk Kwangmin, pikirku cepat. Tidak pantas digunakan untuk luka remeh yang bahkan tidak kusadari.

“Obati dulu lukamu,” perintah Kwangmin. Tubuhnya ambruk dengan lutut sebagai tumpuan. Ketika obsidian kami bertemu, aku dapat mengenali binar keletihan di sana.

Bayangan kematian Youngmin yang begitu tiba-tiba kembali terputar. Aku enggan mengulang rekaman itu lagi. Dadaku sudah cukup sesak untuk memperkirakan di mana gerangan keluargaku berada. Mungkin mereka juga sudah mati, seperti Youngmin.

Aku hendak menangis, tapi aku mengedipkan mata dengan cepat hingga fluida itu kembali lagi membasahi korneaku. Tidak ada waktu untuk berduka sekarang. Kami harus mencapai pantai perbatasan secepat mungkin untuk bertemu dengan Darah Baru lainnya.

Walau mungkin tidak akan ada yang menunggu kami di pantai sana kecuali jasad bergelimpungan.

“Kubilang obati,” seru Kwangmin lagi. Aku menggeleng pelan. Toh, dia juga tidak punya kekuatan untuk membantahku. Kami berdua sama-sama lelah.

Aku mengenyakkan tubuhku ke tanah. Bersandar di bahu Kwangmin. “Aku tidak boleh kehabisan tenaga. Kau butuh kekuatanku, Kwang.”

Tanpa kusangka, Kwangmin mengelus rambutku. Tatapannya teduh, persis seperti yang kuingat. Ketika tangannya menyentuh daguku, aku menelan ludah.

Bahkan aku belum sempat menyatakan bahwa aku mencintai Youngmin, tapi pemuda itu sudah terbakar hingga ke tulang-tulangnya. Sekarang, aku membiarkan adik kembarnya merenggut ciuman pertamaku.

Ya Tuhan, betapa terkutuknya aku.

“Percayalah padaku. Kau aman selama bersamaku.”

Aku bodoh jika mengiyakan perkataan Kwangmin. Di tengah kekacauan bak neraka seperti ini, di mana Darah Baru jadi korban kekejaman Yang Mulia Raja, bahkan Dewa tidak berani menjamin keselamatanku. Lantas atas dasar apa dia berani berucap seperti itu?

Namun, bola kepalaku bergerak naik-turun. Memilih untuk memercayai ilusi yang dikatakan Kwangmin. Dia mengulurkan tangan, praktis aku menerimanya. Sifatku yang seperti pengecut meluap. Bahkan jika kami menemui peluru menembus dada masing-masing di pemberhentian kami selanjutnya, paling tidak kami akan mati bersama.

Paling tidak, nantinya aku bisa pamer pada Youngmin kalau aku sudah berusaha melindungi Kwangmin.

Kwangmin menatapku. Aku mengangguk.

Kami melompat lagi.

end.

Hahahha //ketawa pahit.

I’m so into Red Queen series by Victoria Aveyard nowadays /cri. Karena itu jadinya FF pertama dari proyek To OOR ini juga mengambil latar di dunia rekaan Bu Aveyard huhu.

Semoga proyek ini bisa selesai sebelum album baru OOR rilis;-; ah sudah, saya malah jadi curhat. Hehe.

See ya on comment box!

Chapter 1

A month before

“Kalian anak XII IPA-1 kan?” Tanya salah seorang guru

“Iya pak” jawab mereka bertiga serentak

“Kapan ada pelajaran saya?” Tanyanya lagi

“Besok pak”

“Oooo, ya sudah”

“Pak kalau tidak salah bapak bilang kita akan bikin drama ya?”

“Iya nanti kita bikin drama setelah saya selesai membahas materi tentang drama, masalah kelompoknya nanti liat aja”

Lalu, sang guru pun kembali sibuk dengan kegiatan yang ia lakukan sebelumnya. Dan ketiga murid XII IPA-1 itu mulai mendiskusikan drama yang dibahas oleh guru mereka sebelumnya. Mulai dari cerita yang mungkin bisa mereka mainkan dengan anggota yang memungkinkan. 

Tidak semua anak kelas unggulan hidup bahagia, tidak terkecuali beberapa anak XII IPA-1. Alice Kim salah satunya. Ia dan beberapa temannya yang biasa bersamanya tidak memiliki teman. Bisa dibilang, hanya dia yang tidak memiliki teman.

Gracia biasa bermain dengannya tetapi, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Giselle, si juara satu. Sedangkan, Anna yang merupakan teman sebangkunya memang sering bersamanya, tetapi tetap saja ia lebih suka berada di sekitar Sarah.

Alice lebih sering menghabiskan waktunya untuk duduk di kursinya menunggu jam pulang. Saat istirahat pun Alice hanya di kelas, ia keluar jika penting dan ia sudah terlalu bosan dengan suasana kelas.

Giselle memang menjadi temannya sejak kecil, begitu pula dengan Anna dan Gracia. Alice sudah tau bagaimana sifat mereka, serigala berbulu domba, pemaaf yang dimanfaatkan, periang dan anak kecil. Ia hanya ingin memiliki teman yang dapat mendengarkan curhatnya, mendengarkan ceritanya, ada saat dia susah. Tetapi, ia sudah tau jika mencari orang seperti itu di kelas XII IPA-1 maupun satu sekolah juga tidak akan  ketemu. Karena itu ia sudah terlalu lelah mencari teman.

Kembali ke masalah drama. Sebenarnya ia berencana membuat kelompok dengan Anna, Gracia, dan Giselle. Mereka sudah menentukan tema bahkan. Tetapi saat pencarian anggota pelengkap untuk drama mereka. Giselle berbohong kepadanya.

“Maaf kan aku al, Rick mau berkelompok dengan kita, bahkan James dan Nelson juga. Tapi, Rick mengubah semuanya, dia ingin menjadi ketua, sedia yang menentukan anggota dan ceritanya, aku, Gracia, dan Anna susah gabung sama mereka, kalo kamu mau gabung coba aja tanya sama Rick”

“OK deh” kata Alice lalu Giselle berjalan untuk ke kamar kecil.

A few minutes after the bell rings

Alice Masih belum menemukan Rick karena itu ia memutuskan menunggu laki-laki itu saat bel masuk, lalu Giselle mendekatinya

“Al, tadi aku dah nanyain ke Rick tapi katanya anggota ceweknya udah pas jadi kamu ngak bisa gabung ama kita”

“Ya ga papa kan, thanks ya”

Alice merasakan ada sesuatu yang aneh, apa lagi beberapa saat kemudian Rick yang bertanya kepada Giselle tentang botol yang ia pegang tiba tiba hanya menjawab ‘ooh’ walaupun sebelumnya ia begitu antusias.

Next day

Alice sedang duduk di kursinya seperti biasa saat ia mendengar Giselle berbicara dengan Gracia tentang naskah drama. Alice merasa bingung dengan apa yang Giselle bicarakan, tetapi dalam beberapa menit ia menyadari bahwa itu merupakan suatu tipu muslimah dari Giselle. Karena merasa kesal, ia pun berjalan ke kantin dan tidak sengaja menabrak Nam joon sang ketua osis sekaligus teman sekelasnya. 

“Jika jalan hati hati” kata Nam joon dingin sambil berlalu sehabis Alice mengucapkan maaf.